Videoini adalah Video seorang pemuda yang di tes hafalan Alfiyah Ibnu Malik yang ditemui di jalan, di Arab Saudi. Pemuda ini membacakan beberapa bait Alfiya JamakMuannats Salim dalam Kitab Alfiyah Ibnu Malik. Penjelasan Bait Alfiyah Mengenai Mulhaq Jamak Muannats Salim. Bait وَمَا بِتَا وَأَلِفٍ قَدْ جُمِعَا * يُكْسَرُ فِي الجَرِّ وَفِي النَّصْبِ مَعَا. Bait كَذَا أُولَاتُ وَالَّذِي اْسْمًا قَدْ Perludiketahui bahwa Ibnu Malik dengan isim karimnya Muhammad bin Abdullah bin Malik ath-Tha'i al-Jayyani atau lebih dikenal dengan isim laqobnya Ibnu Malik adalah seorang pemuda yang mampu mengarang Kitab Alfiyah dengan perpaduan sastra arab dan teori grametika bahasa Arab. Vay Tiền Online Chuyển Khoản Ngay. Generasi Qur’ani adalah sekumpulan pemuda yang selalu berpegang teguh pada ajaran Al-Qur’an, menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidupnya, membacanya, menghafalnya dan memahami isinya, serta mengamalkannya dalam seluruh aspek kehidupan dan kelakuan. Dalam surat al-Kahfi Allah telah memberikan gambaran yang sangat medalam tentang pemuda yang selalu menjunjung tinggi nilai ibadah dan nilai ilahiyyah, segala sesuatu yang mereka lakukan hanya diperuntukkan untuk Allah semata serta mereka tidak gentar dengan apapun ancamannya. Allah berfirman إِذْ أَوَى ٱلْفِتْيَةُ إِلَى ٱلْكَهْفِ فَقَالُوا۟ رَبَّنَآ ءَاتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا فَضَرَبْنَا عَلَىٰٓ ءَاذَانِهِمْ فِى ٱلْكَهْفِ سِنِينَ عَدَدًا ثُمَّ بَعَثْنَٰهُمْ لِنَعْلَمَ أَىُّ ٱلْحِزْبَيْنِ أَحْصَىٰ لِمَا لَبِثُوٓا۟ أَمَدًا نَّحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ نَبَأَهُم بِٱلْحَقِّ ۚ إِنَّهُمْ فِتْيَةٌ ءَامَنُوا۟ بِرَبِّهِمْ وَزِدْنَٰهُمْ هُدًى “Ingatlah tatkala para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa “Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami ini”. “Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu” “Kemudian Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua golongan itu] yang lebih tepat dalam menghitung berapa lama mereka tinggal dalam gua itu” “Kami kisahkan kepadamu Muhammad cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan Kami tambah pula untuk mereka petunjuk” “Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami tambahkan kepada mereka petunjuk.”QS al-Kahfi ayat 10 – 13 Dalam ayat- ayat tersebut Allah menggambarkan bagaimana keimanan para pemuda gua ashabul kahfi yang rela mengorbankan dirinya hanya untuk mempertahankan nilai nilai ilahiyyah. Pada saat itu mereka dihadapkan dengan raja yang sangat dzolim bahkan kufur dan mengajak pada kekufuran dengan cara melarang bahkan menghukum semua rakyatnya yang menyembah Allah semata. Sekumpulan pemuda ini akhirnya berinisiatif untuk keluar dari kukungan penguasa dzolim tersebut agar dapat beribadah denga naman dan nyaman tanpa gangguan dan ancaman. Hingga akhirnya mereka bersepakat untuk keluar, namun saying rencana mereka diketahui oleh raja dan langsung menugaskan tentaranya untuk memburu dan menangkap mereka. Di penghujung jalan para pemuda itu sudah terkepung oleh bala tantara dan tidak memiliki tempat bersembunyi yang lain selain gua yang kecil kahfun. Dengan penuh keyakinan atas pertolongan Allah mereka masuk kedalamnya dan berdoa kepada Allah memohon rahmatnya doanya pada surat alkahfi ayat 10. Di tengah kegelapan gua, dibalut rasa jemas, dihantui oleh tantara raja, tidak punya bekal makanan, gua yang menjadi tempat pesembunyian hanyalah tempat yang kecil tapi anehnya mereka tidak memohon keselamatan, tidak memohon diberi ketenangan, tidak memohon makanan dan tempat tidur yang nyaman, tidak memon gua-nya di luaskan. Justru yang mereka minta adalah rahmat Allah ta’ala. Ini membuktikan keteguhan iman para pemuda kahfi, karena mereka yakin dengan rahmat Allah-lah mereka akan selamat, bukan dengan persediaan makanan, tempat yang luas dan hati yang tenang. Hingga Allah memberikan pertolongan dengan rahmat-nya mereka semua tertidur selama beberapa ratus tahun 300 tahun walaupun ada khilaf, dengan begitu mereka selamat dari kejaran tantara dzolim tanpa merasakan pusing, pegal sedikitpun, bahkan mereka beranggapan bahwa mereka hanya tidur beberapa jam saja. Dan semua ini mustahil jika tidak dengan rahmat Allah ta’ala. Kemudian Allah jelaskan dalam ayat yang ke-13 dari surat al-Kahfi bahwa mereka adalah pemuda yang beriman kepada Allah, yang yakin kepada Allah, yang tulus menyembah dan beribadah hanya untuk Allah Ta’ala maka Allah tambahkan kepada mereka hidayah petunjuk. Ketika itu keajaibanpun muncul dalam sejarah hidup mereka, dan Allah abadikan dalam kitab-kitab suci yang dibawa oleh para Nabi utusannya termasuk al-Qur’an. Pemuda zaman now atau milenial sekarang ini realitasnya banyak yang di sibukkan oleh smartphone, ganget, dan media sosial, beberapa di antaranya ada yang tidak memiliki kesibukan dan menghabiskan waktu luangnya untuk tiduran dan berselancar di dunia maya, hingga timbullah istilah generasi rebahan. Dengan realita dari perubahan zaman yang semakin canggih ini apakah yang sebenarnya diharapkan dari pemuda, dan akankah pemuda zaman now menjadi generasi Qur’ani? Sebuah ungkapan Arab mengatakan “pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan” oleh karena itu pada zaman sekarang ini, sebagai pemuda kita harus mampu menjadi pelopor bukan pengekor, pemuda sekarang harus berjiwa Qur’ani dan jangan sampai menjadi budak zaman. Kemajuan teknologi harus dipergunakan secara semestinya seperti mengambil yang baik-baik didalamnya dan menjadikan sebagai sarana belajar, apalagi aktifitas menuntut ilmu merupakan sesuatu yang memang di wajibkan atas setiap muslim, serta menjadikan Al-Qur’an sebagai rambu-rambu dalam kehidupan. Di antara ciri-ciri pemuda Qur’ani antara lain Pertama, memiliki Iman yang kuat terhadap akidah Islam, yakni pemuda yang memiliki ketakwaan kepada Allah SWT, dan menjadikan Islam sebagai gaya hidup lifestyle, mereka bangga dengan islam, cara bicaranya sunnah, olah raganya sunnah, akrab dengan majelis ilmu, serta berteman dengan orang yang shaleh. Kedua, memiliki akhlak yang mulia. Sudah sepatutnya pemuda mengamalkan dan berakhlak dengan Al-Quran, terutama pada zaman sekarang ini para pemuda tidak boleh lepas dari pedoman hidupnya Al-Qur’an. Nabi Muhammad diutus Allah untuk membangun akhlak mulia, di dalam Al-Qur’an diterangkan “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu…”QS al-Ahzab ayat 21. Hadist dari Aisyah RA “Akhlak beliau Rasulullah adalah Al-Qur’an” Ketiga, memiliki kekuatan fisik. Sebagai seorang mukmin hendaklah kita menjadi mukmin yang kuat dan tidak lemah, olahraga adalah salah satu cara untuk menjaga tubuh kita agar tidak mudah terkena penyakit, diantara olahraga yang di anjurkan dalam islam yaitu olahraga panahan, berkuda, berenang, berlari, dan gulat. Suatu ketika, Ummul Mukmin Aisyah melihat sekelompok pemuda yang berjalan dengan gontai, lemas, loyo dan bermalas-malasan. Lalu dikatakan kepada beliau “Para pemuda tersebut adalah orang-orang yang ahli ibadah, ahli qana’ah dan ahli zuhud.” Aisyah berkata “Demi Allah yang jiwaku dalam genggaman-Nya, sesungguhnya Umar bin khattab adalah orang yang lebih banyak ibadahnya, lebih hebat zuhudnya, dan lebih takut kepada Allah daripada mereka. Namun apabila Umar memukul, pukulannya menyakitkan. Apabila dia berbicara, pembicaraannya akan di dengar. Dan apabila dia berjalan, maka jalannya cepat.” Keempat, berdikari dan produktif. Berdikari yaitu berdiri di atas kaki sendiri atau mandiri dan tidak bergantung pada orang lain. Untuk mewujudkan Generasi Qurani Rasulullah SAW merupakan contoh terbaik untuk di ikuti oleh generasi muda masa kini. Rasulullah SAW rajin bekerja dan bersungguh-sungguh dalam pekerjaannya, bahkan dimasa mudanya beliau sudah mampu mencari sumber rezki sendiri. Dahulunya beliau pernah mengembala kambing dari penduduk mekah, selain itu beliau juga merupakan seorang pedagang yang jujur dan amanah. Sahabatku yang disayangi Allah, kita adalah umat yang Allah turunkan Al-Qur’an sebagai mukjizat yang agung, betapa ruginya umat yang tidak menjadikan Al-Quran sebagai panduan hidup. Hidup dalam sinaran petunjuk Al-Qur’an dan mematuhi ketentuan-ketentuannya merupakan kunci untuk mendaptakan kebahagiaan dunia dan akhirat. Rasulullah SAW bersabda “sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya”HR Al-Bukhari Penulis Ustadz Faisal Alhabsyi Bidang Kurikulum dan Akademik Pesantren MAQI Jakarta, NU Online Intelektual Nahdlatul Ulama NU Gus Ulil Abshar Abdalla menjelaskan etika santri dengan mengutip bait-bait yang terdapat dalam Alfiyah Ibnu Malik. Sebuah kitab yang mempelajari tentang tata bahasa arab sebanyak 1000 bait yang diajarkan di seluruh pondok pesantren tradisional di Indonesia, bahkan di seluruh dunia. “Saya ingin menjelaskan etika santri dan semangat kesantrian sebagaimana saya pahami di dalam pesantren tradisional, yaitu pesantren NU di mana saya tumbuh di sana. Etika santri di bisa digambarkan di dalam bait-bait awal Alfiyah Ibnu Malik,” terang Gus Ulil saat ditemui NU Online di kediamannya, di Jatibening, Pondokgede, Bekasi, pada Jumat 22/10/2021 bertepatan dengan Hari Santri. Ia lantas membacakan beberapa bait awal di dalam Kitab Alfiyah Ibnu Malik yang dibuka dengan bait berikut ini قَالَ مُحَمَّدٌ هُوَ ٱبْنُ مَالِكِ أَحْمَدُ رَبَّي اللهَ خَيْرَ مَالِكِ مُصَلِّيًا عَلَى الرَّسُوْلِ الْمُصْطَفَى وَ آلِهِ المُسْتَكْمِلِيْنَ الشَّرَفَا وَ أَسْتَعِيْنُ اللهَ فِيْ أَلْفِيَّهْ مَقَاصِدُ النَّحْوِ بِهَا مَحْوِيَّهْ Bait paling terakhir, Gus Ulil menjelaskan bahwa Imam Ibnu Malik sebelum mengarang kitab alfiyah terlebih dulu meminta pertolongan kepada Allah. Menurutnya, inilah etika dalam tradisi kesantrian. “Setiap tindakan itu dimulai dengan niat yaitu semua kita sadari asal usul kita dari Allah. Kesuksesan pekerjaan kita, tidak bisa terjadi tanpa pertolongan Allah,” terang santri KH Sahal Mahfudh di Pesantren Mathali’ul Falah, Kajen, Pati, Jawa Tengah itu. Ia menegaskan, Allah memang menciptakan kemampuan ke dalam diri manusia untuk bekerja, bertindak, dan melakukan sesuatu. Namun para santri selalu menyadari bahwa sumber kekuatan yang dimiliki bersumber dari Allah. “Karena itu, bait di dalam kitab alfiyah ini melambangkan etika santri. Para santri ketika memulai pekerjaan itu harus menyadari bahwa sumber kekuatan dari Allah. Tidak semata-mata kita. Manusia punya kekuatan, tetapi sumber kekuatan paling utama dari Allah,” tegas menantu Mustasyar PBNU KH Ahmad Mustofa Bisri itu. Selanjutnya, Gus Ulil menjelaskan etika santri yang kedua yakni menjadi penyampai pesan-pesan yang diajarkan Nabi Muhammad kepada publik dengan cara yang sederhana. Ia kemudian mengutip bait Alfiyah Ibnu Malik berikutnya. تُقَرِّبُ الْأَقْصَى بِلَفْظٍ مُوْجَزِ “Karena kita punya tugas untuk menyampaikan pesan-pesan ini maka kita harus menguasai cara untuk menyampaikan pesan secara efektif dan efisien sehingga orang paham. Bait ini artinya Alfiyah bisa mendekatkan pembahasan-pembahasan rumit dalam tata bahasa arab yaitu nahwu, bi lafdzin mujazi, dengan redaksi yang sederhana,” jelas Gus Ulil. Ia menegaskan santri harus mampu menyederhanakan masalah yang rumit, bukan justru merumitkan hal-hal yang sederhana. Dengan kata lain, santri wajib bisa menyampaikan pesan-pesan kepada masyarakat awam dengan formula, redaksi, dan ungkapan yang sederhana. “Ciri khas ulama Islam itu mereka bisa berada pada dua level sekaligus. Mereka bisa mengarang kitab yang rumit tetapi juga bisa berbicara kepada orang awam,” terangnya. Hal ini tentu sangat berbanding terbalik dengan para sarjana modern. Menurut Gus Ulil, sarjana modern pada umumnya kurang terampil berbicara dengan orang biasa atau masyarakat awam. Bahkan sarjana modern justru terampil dengan kerumitan, tetapi tidak terampil dengan kesederhanaan. “Nah etika yang diajarkan dalam kitab alfiyah ini adalah tuqarribul aqsa bi lafdzin mujazi, bisa mendekatkan sesuatu yang rumit dengan ungkapan dan redaksi dan keterangan yang sederhana sehingga orang paham. Karena Kanjeng Nabi begitu, punya keistimewaan mampu menyederhanakan perkara yang rumit,” pungkasnya. Pewarta Aru Lego Triono Editor Fathoni Ahmad “Thalabul ilmi faridhatun ala kulli muslimin wa muslimatin”. “Uthlubul ilma minal mahdi ilal lahdi”.Dua hadis ini rasanya tidak asing lagi di telinga orang pesantren sebagai penuntut ilmu thalibul ilmi. Sejak madrasah ibtidaiyah MI dulu ustadz/ustadzah sudah mengenalkan dua hadits tersebut. Kalau masa sekarang mungkin sejak masa taman kanak-kanak TK sudah bagaimana cara kita untuk bisa mencapai derajat yang tinggi dalam mencari ilmu? Dalam hal ini, Ibnu Malik Al-Andalusi dalam kitab Alfiyah-nya mesdiskripsikan cara itu. Ada lima syarat yang bisa mengantarkan seseorang thalibul ilmi pada derajat yang tinggi. Lima point tersebut yang nantinya akan membedakan antara thalibul ilmi yang taat dan tidak. Hal itu beliau torehkan dalam bait syair Alfiyah-nya yang berbunyi “Bil jarri wat tanwini wan nida wa al wa musnadin lil ismi tamyizun hashal”Artinya, seorang thalibul ilmi harus mempunyai dan bersifat, pertama, jar. Dalam artian tunduk dan tawadduk terhadap semua perintah baik dari Allah SWT maupun pemerintah. Sesuai dengan apa yang difirmankan Allah swt. yang berbunyi, “athi’ullaha wa athi’ur rasul wa ulil amri minkum”. Kedua, tanwin. Artinya kemampuan baca niat yang tinggi mencari ridha Allah SWT. Dengan adanya kemauan yang tinggi seorang thalibul ilmi akan mencapai apa yang ia inginkan. Sesuai dengan apa yang di sabdakan nabi Muhammad saw. yang datangnya dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh, Umar bin Khattab bahwa nabi Muhammad saw. pernah bersabda yang bunyinya, “innamal a’malu binniyati, wa innama likullimriin ma nawa… al-Hadits”. Ketiga, nida’. Artinya dzikir. Setelah adanya niat yang baik untuk mencapai tempat yang layak di sisi Allah swt., seorang thalibul ilmi diharapkan berdzikir mengingat-Nya. Dengan ini, niat awal tidak akan menjadi ashi bis safar/fis safar. Keempat, al, yang berarti berfikir. Karena berfikir manusia mempunyai derajat yang lebih tinggi dari makhluk Allah lainnya. Maka dari itu, setidaknya seseorang yang ingin menggapai sesuatu seyogyanya menggunakan akal pikirannya sebaik mungkin, dengan tidak menggunakannya pada jalan yang salah, tidak berpikiran licik. Tidak seperti apa yang jamak dilakukan para aktivis yang kadang menggunakan akal pikirannya untuk mengkorup uang bawahannya, instansi, dan sejenisnya. Kelima, musnad ilaih. Beramal nyata ikhlas. Cara yang kelima ini merupakan puncak dari semuanya. Dengan ikhlas semuanya akan gampang. Sekedar gambaran, dalam film “Kiamat Sudah Dekat”, dengan ikhlas Fandi Andre bisa mendapatkan Sarah Zazkia Adya Mecca dari Pak Haji Deddy Mizwar, ayah Sarah. Sejatinya lima konsep di atas tidak hanya untuk thalibul ilmi semata, akan tetapi lima konsep tersebut juga untuk merka yang ingin menjadi lebih baik dan lebih maju, termasuk para pemimpin kita yang berada dalam angka krisis. Abd. BasidAlumnus PP. Mambaul Ulum Bata-Bata, Pamekasan, Madura;tinggal di Probolinggo Ibnu Malik menulis 7 bait ini sebagai pembuka Alfiyahnya yang fenomenal. Pembukaan ini meliputi pujian untuk Allah ﷻ, sholawat kepada Rasulullah ﷺ, dan di dalam bait ini beliau juga memohon pertolongan kepada Allah ﷻ dalam penulisan Alfiyah ini. a. قَالَ مُحَمَّدٌ هُوَ ٱبْنُ مَالِكِ Bait ini menjelaskan nama dan nasab penulis. Beliau adalah Abu Abdillah Muhammad bin Abdillah bin Malik Al-Jayyani. Beliau merupakan salah seorang imam di bidang Bahasa Arab. Beliau lahir pada tahun 598 H di Jayyan, salah satu kawasan di Andalus pada masa itu. Beliau kemudian berpindah ke Damaskus dan meninggal di sana pada tahun 672 H. Beliau menyandarkan nama beliau kepada kakeknya bukan ayahnya yang bernama Abdullah, sehingga beliau terkenal dengan sebutan Ibnu Malik. b. أَحْمَدُ رَبَّي اللهَ خَيْرَ مَالِكِ Di bait ini beliau memuji Allahﷻ dengan segala kesempurnaan sifat-Nya disertai dengan kecintaan dan pengagungan-Nya. c. مُصَلِّيًا عَلَى الرَّسُوْلِ الْمُصْطَفَى وَ آلِهِ المُسْتَكْمِلِيْنَ الشَّرَفَا Lafaz مُصَلِّيًا di sini berkedudukan sebagai hal muqoddaroh. Hal muqoddaroh adalah hal yang dimaksudkan untuk menjelaskan keadaan setelah terjadinya fi’il, bukan pada saat fi’il terjadi. Karena sholawat kepada Rasulullah ﷺ tidak terjadi bersamaan dengan pujian kepada Allah ﷻ, namun harus diletakkan setelahnya. Lafaz الرَّسُوْلِ yang ada di sini adalah yang tersebut di syarah Ibnun Nazhim anak dari Ibnu Malik dan syarah Al-Makudi. Sementara di syarah dan cetakan yang lain disebutkan menggunakan lafaz النَّبِيِّ. d. وَ أَسْتَعِيْنُ اللهَ فِيْ أَلْفِيَّهْ Di bait ini beliau memohon pertolongan kepada Allah ﷻ dalam penulisan Alfiyah ini. Huruf فِيْ yang ada di sini memiliki makna عَلَى karena fi’il استعان – يستعين itu muta’addi dengan huruf عَلَى. Maksud kata alfiyyah di sini adalah jumlah bait yang ada di tulisan beliau, yang terdiri dari kurang lebih 1000 bait. e. مَقَاصِدُ النَّحْوِ بِهَا مَحْوِيَّهْ Beliau menyebutkan bait ini supaya para penuntut ilmu memberikan perhatian yang lebih kepada ilmu ini dan juga berusaha untuk menghafal dan memahami bait-bait ini. Bait-bait yang ada di dalam Alfiyyah ini berfungsi untuk mengumpulkan ilmu-ilmu nahwu di dalamnya. f. تُقَرِّبُ الْأَقْصَى بِلَفْظٍ مُوْجَزِ Bait ini bermaksud untuk menjelaskan bahwa Alfiyah beliau ditulis untuk menjelaskan makna yang sulit dan permasalahan yang masih samar dalam ilmu nahwu. Perkataan لَفْظٍ مُوْجَزِ yaitu lafaz yang memiliki huruf/kata yang sedikit namun memiliki makna yang luas. g. وَ تَبْسُطُ الْبَذْلَ بِوَعْدٍ مُنْجَزِ Bait ini menjelaskan bahwa Alfiyah dapat membuat penuntut ilmu memahami Bahasa Arab dengan cepat sebagaimana janji yang segera ditepati. h. وَ تَقْتَضِيْ رِضًا بِغَيْرِ سُخْطِ Melalui bait ini, Ibnu Malik meminta keridhoan dari para pembacanya dan tidak mengharap adanya keberatan-keberatan yang ada dari para pembaca. i. فَائِقَةً أَلْفِيَّةَ ٱبْنِ مُعْطِي Ibnu Mu’thi yang dimaksud di sini adalah Abul Hasan Yahya bin Abdil Mu’thi. Beliau adalah penulis alfiyah yang juga berisi ilmu dalam Bahasa Arab. Beliau lahir pada tahun 564 H dan meninggal pada tahun 628 H. Ibnu Malik dan Ibnu Mu’thi sama-sama membuat syair mengenai kaidah Bahasa Arab, namun alfiyah mereka memiliki beberapa perbedaan Alfiyah Ibnu Malik hanya memiliki satu pola bahar pembahasan lebih lanjut ada dalam ilmu arudh/syi’ir yaitu bahar rojaz, namun Alfiyah Ibnu Mu’thi memiliki dua pola yaitu bahar rojaz dan bahar sari’. Alfiyah Ibnu Malik memiliki lebih banyak pembahasan ilmu nahwu. Alfiyah Ibnu Mu’thi banyak mengandung ayat Al-Qur’an dan syahid-syahid syair. Meskipun demikian, Ibnu Mu’thi-lah yang lebih dahulu memiliki ide untuk membuat 1000 bait syair yang membahas tentang ilmu nahwu. Ibnu Malik kemudian mengikuti jejak beliau dalam hal ini. Semoga Allah ﷻ senantiasa merahmati mereka berdua. j. وَهْوَ بِسَبْقٍ حَائِزٌ تَفْضِيْلَا مُسْتَوْجِبٌ ثَنَائِيَ الْجَمِيْلَا Di bait ini, Ibnu Malik menunjukkan keutamaan Ibnu Mu’thi karena beliau lahir terlebih dahulu dan juga lebih dahulu membuat alfiyah mengenai ilmu nahwu. Ibnu Malik mengambil manfaat dari Alfiyah Ibnu Mu’thi dan juga mengikuti jejak beliau dalam membuat alfiyah. Di sini Ibnu Malik mengisyaratkan keutamaan ulama mutaqaddimin dibandingkan ulama muta’akhkhirin. Ulama yang terdahulu berhak mendapatkan pujian dan doa dari ulama yang ada setelahnya. k. وَ اللهُ يَقْضِيْ بِهَبَاتٍ وَافِرَهْ لِيْ وَ لَهُ فِيْ دَرَجَاتِ الْآخِرَهْ Yang dimaksud dengan هِبَاتٍ وَافِرَهْ di sini adalah kenikmatan yang sempurna. Di akhir muqoddimahnya, Ibnu Malik menuliskan doa untuk beliau dan juga Ibnu Mu’thi. Kalaulah doa itu ditujukan untuk seluruh kaum muslimin tentu itu akan lebih baik. Namun beliau mendahulukan doa untuk diri sendiri sebagaimana hadits shahih yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, dari sahabat Ubay bin Ka’ab radhiyallaahu anhu bahwa ketika Rasulullah ﷺ menyebutkan mengenai seseorang dan berdoa untuk orang tersebut, beliau memulainya dengan doa untuk dirinya sendiri. Referensi Dalilus Salik karya Dr. Abdullah Al-Fauzan Alfiyah Ibnu Malik tahqiq Syaikh Abdurrohman bin Auf Kuni Alfiyah Ibnu Malik tahqiq Syaikh Abdul Muhsin Al-Qasim yang digunakan untuk gambar Beri aku seribu orang tua Niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya Beri aku sepuluh pemuda Maka akan kuguncang dunia -Bung Karno Jika ada pertanyaan mengenai masa produktif, pasti jawaban umumnya adalah masa muda. Ya, masa muda adalah masa produktif, masa berkarya, berkreatifitas, bekerja, berkarier, menghasilkan buah karya sebanyak-banyaknya, dst. Kecantikan seorang wanita tatkala mencapai kesempurnaannya juga pada masa muda. Kekuatan energi seorang pria juga berkumpul pada masa mudanya. Kulit kencang menggairahkan, tubuh seksi, segar, berenergi, semuanya terlihat sempurna pada masa muda. Masa muda adalah masa keemasan bagi perjalanan hidup manusia. Maka dari itu, Rasulullah sangat mewanti-wanti umatnya untuk memanfaatkan masa muda sebaik-baiknya. Rasulullah pernah bersabda tentang menjaga dan memanfaatkan sebaik-baiknya lima perkara sebelum datangnya lima perkara, diantaranya adalah Syabâbaka qabla haramika, memanfaatkan masa mudamu selagi belum datang masa tuamu. Pun juga hadits-hadits lain, maqalah-maqalah atau pepatah-pepatah Arab yang menyindir keistimewaan masa muda. Banyak sindiran-sindiran para Ulama, baik dalam bentuk natsar, lebih-lebih dalam bentuk bait syair bersajak yang bertema kecantikan rupa dan akhlak generasi pemuda. Pemuda yang dalam bahasa Arabnya disebut melalui istilah al-Fatâ dalam bentuk mudzakar atau al-Fatât dalam bentuk muannats, atau dalam kata lainnya disebut al-Syâb jamak; al-Syabâb–sebagaimana redaksi hadits diatas, kerap kali menjadi objek sindiran nasihat didalam beberapa karya sastra Arab. Nasihat-nasihat itupun beragam, tapi pada hakikatnya mengerucut pada tujuan utama yang selalu diwanti-wanti kepada para pemuda, yaitu keluhuran budi, keteguhan jiwa, keilmuan, ketakwaan, serta sesuatu yag senada dengan hal itu demi membentuk karakter pemuda tangguh berdasarkan norma agama dan sosial didalam menyambut masa depan yang lebih baik, mengingat masa depan sebuah bangsa berada di genggaman para pemuda. Pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan. إن في يد الشبان أمر الأمة وفي أقدامها حياتها Sesungguhnya di tangan pemuda ada perkara urusan umat, dan pada setiap langkahnya bergantung kelangsungan hidup bangsa. Berikut syair gubahan al-Hajjaj bin Yusuf al-Tsaqafi w. 95 H.. Ada pula yang mengatakan bahwa syair ini adalah gubahan Sayyidina Ali ra. إن الفتى من يقول هاأناذا ** ليس الفتى من يقول كان أبي Sesungguhnya pemuda sejati adalah yang berkata “inilah diriku”. Bukanlah pemuda sejati jika berkata “inilah ayahku” Imam al-Syafi’ie pun juga pernah menulis syair yang menyinggung soal pemuda. Digubah berdasarkan Bahr Thawil. اصبر على مر الجفا من معلم ** فإن رسوب العلم في نفراته ومن لم يذق مر التعلم ساعة ** تجرع ذل الجهل طول حياته ومن فاته التعليم وقت شبابه ** فكبر عليه أربعا لوفاته وذات الفتى والله بالعلم والتقى ** إذا لم يكونا لا اعتبار لذاته Demi Allah, pemuda sejati adalah berdasarkan kadar ilmu dan ketakwaannya. Jika keduanya tidak terdapat didalam diri seorang pemuda, maka tiadalah pantas disebut pemuda sejati. Tak kalah pula, Syaikh Yahya bin Nuruddin Abi al-Khair bin Musa al-Imrithi penulis kitab Nadzam al-Imrithi juga menyebut kata “al-Fatâ” didalam mukaddimah nadzam nahwunya. إذ الفتى حسب اعتقاده رفع ** وكل من لم يعتقد لم ينتفع Jika kita suka mendengar lagu album Cinta Rasul-nya Haddad Alwi dan Sulis, pasti syair berikut ini tak asing lagi di telinga kita, entah gubahan siapa, saya belum menemukannya. لا فخر للبنت بملبس وما ** به تحلت من حلي إنما فخر الفتاة بالعلوم والأدب ** لا بالجمال والحرير والذهب Masih banyak lagi karya sastra Arab menarik lainnya yang membahas atau sekedar meyinggung pemuda, dengan kegagahan, ketampanan, kecantikan dan segala keistimewaan yang dimilikinya, yang tentunya hanya bisa dimiliki pada masa muda. Bait diatas adalah hasil oretan saya yang sedikit banyaknya juga berkaitan dengan masa muda. Saya mencoba mengombinasikan dan menyinergikan pemahaman, dimana jika ingin menjadi seorang pemuda sejati, tidak hanya cukup bermodal kecantikan atau ketampanan saja, tapi lebih dari itu, seorang pemuda sejati adalah pemuda yang memiliki ketampanan budi pekerti, ilmu pengetahuan dan tentunya ketakwaan kepada Sang Ilahi. Saya tulis berdasarkan Bahr Bashith; Salim; Makhbun.

bait alfiyah tentang pemuda